Lynx duduk menyendiri di bawah pohon rindang, pandangannya kosong menatap lapangan luas yang terbentang di hadapannya. Di tangannya tergenggam serpihan artefak kunci dimensi yang diberikan oleh Leluhur Sekte Api Langit. Artefak itu diberikan oleh leluhur yang memilih kembali ke sekte, setelah menyadari tak ada lagi yang bisa diperbuat di tempat ini.

Perlahan, Lynx menarik napas dalam. Matanya menyipit seolah menimbang sesuatu, lalu gumamnya terdengar pelan, "Sudah waktunya aku melihat bagaimana keadaan Leena dan yang lainnya. Aku sampai melupakan mereka."

Dalam sekejap, tubuhnya melesat menuju sebuah lokasi terpencil. Tempat itu ia temukan saat mencari Lala, dia perlu tempat yang aman untuk memasuki dunia kecil. Dengan segera dia membuat formasi penghalang dan ilusi yang kuat agar tak seorang pun mampu mengetahui keberadaannya. Di sana, ia membuka gerbang dimensi, lalu melangkah masuk ke dunia kecil tempat Leena dan Isha berada.

Namun, begitu menjejakkan kaki di dalam, alis Lynx langsung mengernyit. Dunia itu kini jauh berbeda dari sebelumnya. Hutan yang dulu rimbun telah lenyap. Gunung-gunung menjulang hancur berantakan. Di mana-mana terlihat bekas terbakar dan lahan hangus yang menyebar tak karuan.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku belum lama meninggalkannya. Tak mungkin ada musuh yang bisa masuk ke tempat ini... atau mungkin ada bahaya lain yang belum kusadari," gumamnya dengan sorot mata tajam.

Dengan cepat, ia menelusuri sumber energi Leena. Tubuhnya melesat bagai kilat menembus sisa kabut spiritual yang mengambang di udara.

Tak lama, ia tiba di kaki sebuah gunung, tempat air terjun deras mengalir. Di bawah guyuran air, ia melihat sosok Leena sedang bermeditasi. Yang membuat jantung Lynx berdebar bukan hanya karena energi spiritual Leena yang begitu pekat, tetapi karena ia berdiri tanpa mengenakan sehelai kain pun. Seluruh tubuhnya yang indah dibalut oleh lapisan tipis qi berelemen api, membentuk aura panas yang bergolak hebat.

"Hah...? Apa yang dia lakukan...? Latihan macam apa ini? Kenapa tanpa pakaian?" bisik Lynx dengan dahi berkerut dan wajah sedikit memerah. Namun, ia tak beranjak, justru memperhatikan kondisi Leena lebih saksama. Setelah memastikan tak ada luka atau gangguan pada sirkulasi qi-nya, Lynx pun menarik napas lega. "Kekuatannya meningkat dalam hitungan hari. Apa yang terjadi dengannya? Mungkinkah tubuh khususnya yang membantu kultivasinya."

Dengan satu gerakan tangan, ia menciptakan formasi pelindung di sekeliling tempat itu. Formasi tersebut dirancang untuk memberi peringatan jika ada makhluk hidup lain yang menyentuhnya, sekaligus menjadi indikator saat Leena menyelesaikan latihannya.

Setelahnya, Lynx kembali melesat menuju bangunan kecil yang terbuat dari tanah liat. Di sekeliling rumah itu, formasi pelindung yang ia pasang sebelumnya masih aktif, menahan berbagai batu, tanah, dan potongan pohon yang melayang dan terlempar ke segala arah, kemungkinan besar akibat latihan Leena.

Lynx berdiri di depan formasi itu, lalu berseru, "Isha..."

Beberapa detik kemudian, seorang anak perempuan kecil keluar dari dalam rumah. Begitu melihat Lynx, wajahnya langsung berseri dan tubuh mungilnya berlari kecil memeluk kaki pemuda itu.

"Kak Lynx! Kak Lynx kembali!" serunya dengan suara riang dan mata berbinar.

Lynx tersenyum lembut, membelai kepala anak itu. "Apa yang terjadi di sini, Isha?"

Anak kecil itu menggeleng pelan. "Kak Leena cuma bilang mau latihan... tapi Isha takut... suara gemuruh dan ledakan terus-terusan terdengar dari sana."

Lynx mengangguk tenang. "Isha jangan khawatir. Kak Leena sedang berlatih teknik yang cukup berat. Nanti kalau Isha sudah siap, kamu juga bisa belajar kultivasi seperti dia."

Mata Isha membesar penuh semangat. "Benarkah? Isha mau! Isha sangat mau belajar seperti Kak Leena!"

Lynx terkekeh pelan melihat antusiasme bocah itu. "Bagus. Oh ya, Isha sudah makan?"

"Sudah, Kak. Tapi Kak Leena belum makan dari kemarin. Tidak lama Kak Lynx pergi, Kak Leena bangun dan langsung pergi latihan."

Lynx tersenyum kecil. "Tak apa. Seorang kultivator tidak akan bermasalah meskipun tidak makan selama beberapa hari. Sekarang ayo, Isha ikut Kakak. Kita akan temui yang lainnya."

Lynx menggenggam tangan Isha dengan satu tangan, lalu menutup mata konsentrasi. Dalam sekejap, mereka berdua keluar dari dunia kecil dan kembali ke alam nyata. Angin di luar terasa sejuk, cahaya di sekitar mereka mulai meredup. Tanpa membuang waktu, Lynx mengeluarkan lagi sebuah artefak kecil berbentuk miniatur pagoda tiga tingkat berwarna giok tua, dengan pola awan mengalir di dindingnya

"Pegangan, Isha," ucapnya lembut.

Begitu Lynx menyalurkan qi ke artefak itu, dalam sekejap tubuh mereka lenyap ke dalamnya, berpindah ke dunia dalam pagoda yang jauh lebih luas dari tampaknya di luar.

Isha menatap sekeliling dengan mata terbuka lebar, mulutnya sedikit menganga. "Waaah... ini seperti sulap! Kita bisa pindah tempat secepat itu, Kak? Gimana caranya bisa begini?"

Lynx hanya tersenyum kecil. "Nanti, kalau kamu sudah belajar cukup lama, kamu juga akan bisa melakukan hal yang lebih hebat dari ini."

Isha memperhatikan keadaan disekitarnya, di sana seorang wanita berambut panjang berdiri sambil memandangi seorang wanita lain yang sedang terbaring tenang di atas batu besar disampingnya, seperti sedang tertidur nyenyak.

Lynx menghentikan langkahnya. Matanya terarah pada wanita berambut panjang itu dan suaranya terdengar tenang. "Jelita, bagaimana kondisi Leena?"

Begitu mendengar suara itu, wanita tersebut kaget dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Raut wajahnya dipenuhi kegembiraan. "Kepala suku, kamu akhirnya kembali," ujarnya sambil melangkah mendekat. Namun tatapannya segera jatuh kepada sosok kecil di samping Lynx. Ia terdiam sejenak, matanya membulat sedikit.

"Siapa dia, Kepala Suku? Apakah ini... Isha?" tanyanya dengan suara pelan namun penuh rasa ingin tahu. Ia teringat percakapan sebelumnya dengan Lynx tentang misinya menyelamatkan Lala dan membawa pulang seorang anak kecil yang kehilangan segalanya.

"Dia Isha," jawab Lynx sambil menoleh ke gadis kecil itu. "Isha, ini Kakak Jelita. Dia juga akan menjaga dan menemanimu nanti. Sedangkan yang sedang beristirahat itu adalah Kakak Lala."

Isha memandangi Jelita dengan rasa ingin tahu. Kemudian matanya beralih ke Lala yang sedang terlelap, sebelum akhirnya ia menengadah menatap Lynx dan berkata dengan polos, "Kak Lynx, jadi Kakak punya banyak istri juga ya, kayak papa Isha. Isha kira istri Kakak cuma Kak Leena aja."

Ucapan itu membuat wajah Jelita seketika memerah, pipinya seperti terbakar, sementara Lynx terbatuk kecil, gugup. Ia buru-buru merespons, "Isha, bukan begitu. Jelita ini teman dekat sekaligus saudara Kakak. Istri Kakak cuma Kak Leena seorang."

Mendengar itu, Isha mengangguk pelan. Meski usianya masih muda, ia cukup akrab dengan kehidupan ayahnya yang memiliki beberapa istri, jadi ia menganggap hal semacam itu lumrah dan bukan hal besar. Namun, kali ini ia merasa perlu berhati-hati setelah melihat reaksi Lynx.

Jelita terdiam, menundukkan pandangan. Di dalam hatinya, sebuah rasa hangat mendadak menghilang digantikan luka yang sulit dijelaskan. "Bahkan untuk bercanda sekalipun, Kepala Suku tak mau mengakuiku sebagai istrinya..." bisik batinnya dengan getir, mencoba menahan luka di hatinya agar tidak terlihat di wajah.

Lynx menyadari keheningan itu, lalu menatap Jelita dengan lembut. "Jelita," katanya pelan, namun belum sempat ia lanjutkan kalimatnya, sorot mata Jelita sudah berubah. Meski bibirnya masih tersenyum, namun senyuman itu menyembunyikan seribu rasa.

Lynx melirik sekilas ke arah Jelita, lalu dengan cepat mengalihkan arah pembicaraan agar suasana tak semakin canggung.

"Bagaimana kondisi Lala? Apakah ada perkembangan sejak terakhir kali aku pergi?" tanyanya sambil menatap serius ke arah batu giok tempat Lala berbaring.

Jelita menunduk pelan, sorot matanya redup dan suaranya terdengar pelan seperti dilapisi kegundahan yang dalam. "Belum ada perubahan. Dia masih belum sadarkan diri... Kepala Suku, apakah kau yakin dia benar-benar baik-baik saja? Mengapa dia belum juga terbangun?"

Lynx mendekat ke arah Lala tanpa menjawab. Langkahnya ringan namun penuh ketegasan. Ia berdiri di samping Lala yang masih terbaring tenang di atas batu giok besar. Energi spiritual yang lembut dan bersih dari pagoda qingling masih terus mengalir masuk ke dalam tubuh wanita itu, menyatu sempurna dengan aliran qi miliknya. Ia mengamati pernapasannya, warna kulitnya, dan memeriksa tubuhnya. Semuanya tampak stabil... terlalu stabil.

Alis Lynx mengernyit. Ia memeriksa lebih dalam dengan kekuatan saktinya, namun tetap tak menemukan tanda-tanda luka atau kerusakan qi. Hening sesaat, lalu sebuah kilatan muncul di matanya.

"Mungkinkah..." bisiknya hampir tak terdengar. Dia teringat dengan kejadian yang menimpa Arkha.

Dengan segera, Lynx menempelkan telapak tangannya di dahi Lala, menyalurkan energi sakti miliknya untuk menelusuri keadaan batin dan kesadaran Lala. Aliran energi itu sangat halus, namun kuat dan presisi, menjelajah lapisan-lapisan terdalam dari pikiran dan jiwa wanita itu.

"Seperti dugaanku..." gumam Lynx dengan nada dingin yang dipenuhi kemarahan yang ditahan. "Ini semua ulah Kanaya. Karena pagoda Qingling ini menyalurkan energi spiritual ke tubuhnya, aku sampai tak menyadari kondisi tubuh Lala yang sebenarnya."

Wajah Lynx berubah serius sepenuhnya. Ia segera mengerahkan kekuatan saktinya, menembus batasan spiritual yang menyelimuti kesadaran Lala. Jalur-jalur energi dalam pikirannya disusuri dengan teliti, memecah setiap lapisan pengaruh asing yang mengikat pikiran Lala. Energi manipulatif itu begitu halus namun memiliki cengkeraman kuat, seperti perangkap yang dirancang oleh seseorang dengan pemahaman tinggi akan jiwa manusia.

Di belakang Lynx, Jelita berdiri menggenggam tangan Isha. Entah sejak kapan, genggamannya semakin kuat, begitu erat hingga membuat tangan kecil Isha bergetar. Tatapannya kosong, namun dalam hatinya muncul badai yang tak bisa ia bendung.

"Kenapa cairan itu tidak bereaksi... Bukankah wanita itu bilang kalau Kepala Suku akan mulai mencintaiku setelah meminumnya?" gumamnya dalam hati, penuh rasa kecewa dan sesak.

Isha mengangkat kepala, matanya menatap ke arah Jelita. Ia bisa merasakan jemarinya diremas begitu keras, hingga ujung-ujung jarinya mulai berdenyut nyeri. Namun, bocah itu hanya meringis kecil tanpa mengeluh, berpikir bahwa Kak Jelita sedang cemas karena Kak Lala belum bangun.

Ia menggenggam balik tangan Jelita dengan lembut dan berkata pelan, "Kak Jelita, gak apa-apa... Kak Lala pasti segera bangun, Kak Lynx ada di sini sekarang." Suaranya polos, namun menyentuh.

Namun Jelita tak menjawab. Ia hanya memandangi Lynx yang sedang berjuang memulihkan kesadaran wanita lain, dan di hatinya, sebuah luka kecil perlahan tumbuh semakin dalam.

